Aku memilih bermain kamera sampai mati. Bukan karena tak ada jalan lain, tapi karena di balik lensa, hidup terasa paling jujur. Setiap klik adalah cara bernapas, setiap cahaya yang tertangkap adalah alasan untuk terus berjalan.
Kamera menemaniku dalam senyap dan keramaian. Ia hadir saat bahagia, saat lelah, bahkan saat dunia terasa berat. Aku belajar bahwa hidup tidak selalu harus dipahami—cukup diamati, dirasakan, lalu diabadikan sebelum ia berlalu.
Aku tahu, tubuh bisa menua, tangan bisa gemetar, mata bisa lelah. Tapi selama masih ada cahaya dan cerita, kamera akan tetap kuangkat. Karena fotografi bukan sekadar hobi, ia adalah cara mencintai hidup—apa adanya.
Dan kelak, jika waktuku berhenti, biarlah jejak itu tertinggal dalam foto-foto sederhana. Tentang manusia, tentang perjalanan, tentang momen yang pernah ada.
Karena bermain kamera sampai mati bukan tentang kematian. Ia tentang memilih hidup sepenuhnya, sampai detik terakhir.