Jangan jadikan kamera seperti ambulans yang baru datang saat ada musibah. Kamera seharusnya hadir untuk merawat cerita, bukan sekadar merekam luka. Ada batas antara dokumentasi dan empati, antara kebutuhan visual dan nilai kemanusiaan.
Tidak semua peristiwa perlu dikejar demi konten. Di balik sebuah tragedi, ada manusia yang sedang rapuh, ada rasa yang tidak pantas dipertontonkan. Kamera yang bijak tahu kapan harus menekan tombol, dan kapan harus diturunkan.
Fotografi bukan hanya soal kecepatan dan eksklusivitas, tapi juga tentang sikap. Menghormati subjek jauh lebih penting daripada mendapatkan gambar dramatis. Karena foto yang baik bukan yang paling menyayat, melainkan yang paling bertanggung jawab.
Gunakan kamera untuk bercerita, bukan mengeksploitasi, sebab nurani harus selalu lebih tajam daripada lensa.